Ancaman malware di Indonesia makin berkembang cepat. Dulu, banyak orang menganggap malware hanya sebatas virus komputer yang membuat laptop lambat. Sekarang, malware sudah menjadi bagian dari ekosistem kejahatan siber yang jauh lebih terorganisir: mencuri password, mengambil alih akun, menginfeksi perangkat Android, mencuri data perusahaan, sampai menjadi pintu masuk ransomware.
Indonesia juga bukan target kecil. Dalam konteks Asia Pasifik, Microsoft mencatat Indonesia berada di peringkat ke-12 negara dengan aktivitas siber tertinggi di kawasan, dengan paparan terhadap pencurian data, ransomware, dan malware infostealer seperti Lumma Stealer. Lumma sendiri disebut telah menyerang lebih dari 14 ribu perangkat di Indonesia pada paruh pertama 2025.
Data lokal juga menunjukkan arah yang sama. Pada periode Januari–Juli 2025, BSSN mencatat 3,64 miliar anomali trafik yang mengarah pada serangan siber, dan 83,68 persen di antaranya berbasis malware. Angka ini menunjukkan bahwa ancaman malware bukan lagi isu teknis semata, tetapi sudah menjadi risiko nyata untuk pengguna pribadi, UMKM, organisasi, dan instansi di Indonesia.
